Sanorah Desa Tukum, Gerakan Sosial yang Menjadikan Donor Darah Tradisi Gotong Royong

  • Sep 13, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri

Tukum, KIM – Karang Taruna Desa Tukum menginisiasi aksi donor darah massal yangSanorah Desa Tukum, Gerakan Sosial yang Menjadikan Donor Darah Tradisi Gotong Royong sarat makna kemanusiaan, sekaligus menjadi momentum peringatan Hari Ulang Tahun Palang Merah Indonesia (PMI) ke-80, HUT Karang Taruna ke-65, dan HUT Sanorah ke-18.

Dengan mengusung semangat Sanorah (Sadar Donor Darah), kegiatan ini menegaskan bahwa donor darah bukan sekadar seremonial, tetapi bagian dari gerakan sosial berkelanjutan yang memperkuat nilai gotong royong.

Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo), menegaskan bahwa donor darah adalah tindakan sederhana yang bernilai luar biasa.

“Setetes darah yang kita berikan bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain. Karang Taruna Tukum telah memberi contoh nyata bahwa generasi muda bisa memimpin gerakan kemanusiaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” terang dia dalam kegiatan Sanorah di Pendopo Mangundiharjo Desa Tukum, Jumat malam (12/9/2025).

Aksi ini bukan hanya menghimpun pendonor, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa kepedulian sosial harus menjadi bagian dari budaya desa. Edukasi tentang pentingnya donor darah secara rutin juga diberikan, agar masyarakat memahami bahwa ketersediaan darah di rumah sakit adalah urusan bersama.

Ketua Karang Taruna Desa Tukum menegaskan komitmennya menjadikan donor darah sebagai agenda rutin desa.

“Kami ingin gerakan Sanorah terus hidup. Donor darah adalah wujud solidaritas tanpa batas, di mana setiap orang bisa berkontribusi menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

PMI Lumajang memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut dan menilai kegiatan ini sebagai teladan kolaborasi antara pemerintah desa, organisasi kepemudaan, dan masyarakat.

“Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa desa mampu melahirkan gerakan sosial yang dampaknya luas bagi bangsa,” ujar Wakil Sekretaris PMI Lumajang, Nurhadi Santoso.

Melalui aksi ini, Desa Tukum menegaskan diri sebagai desa inklusif yang membangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga karakter sosial warganya. Nilai kemanusiaan, kepedulian, dan semangat gotong royong diwujudkan dalam tindakan nyata yang sejalan dengan jati diri bangsa Indonesia. (KIM Tukum Mandiri/Luqman)