Kades Tukum: Tradisi Lokal Perlu Ditempatkan sebagai Sumber Pengetahuan dan Ruang Pembelajaran Publik
- Jun 22, 2026
- KIM Tukum Mandiri
- Seni & Budaya
Tukum, KIM – Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo) menegaskan bahwa tradisi lokal seperti Kirangan Tumben tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga memiliki posisi strategis sebagai sumber pengetahuan sosial yang dapat dikembangkan melalui pendekatan akademik.
Ia menilai, keterlibatan dunia pendidikan dalam mengkaji tradisi masyarakat desa menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap budaya lokal, dari sekadar aktivitas seremonial menjadi objek kajian ilmiah yang memiliki nilai edukatif, sosial, dan komunikasi publik.
“Pemerintah desa mengapresiasi kegiatan ini karena menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat,” ujar Cak Santo, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, tradisi seperti Kirangan Tumben (Kirab Gunungan Tukum Biyen) merepresentasikan sistem nilai yang hidup di masyarakat, termasuk gotong royong, solidaritas sosial, serta mekanisme kolektif dalam menjaga harmoni sosial dan lingkungan.
Dalam perspektif pembangunan desa, Susanto menekankan bahwa budaya lokal tidak boleh diposisikan sebagai aspek pelengkap, melainkan sebagai bagian dari modal sosial yang berkontribusi terhadap penguatan identitas dan ketahanan sosial masyarakat desa.
Ia juga menyebut bahwa keterlibatan generasi muda dalam riset dan dokumentasi budaya menjadi indikator penting dalam penguatan literasi budaya, sekaligus bentuk adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi.
Lebih jauh, ia menilai desa memiliki peran penting sebagai ruang produksi pengetahuan berbasis komunitas, di mana praktik budaya dapat dikaji, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi referensi akademik yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan dunia pendidikan dinilai menjadi strategi penting untuk memastikan tradisi lokal tetap relevan, adaptif, dan berkelanjutan.
Pemerintah Desa Tukum berharap pendekatan akademik terhadap budaya lokal dapat terus diperkuat, sehingga tradisi tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga menjadi instrumen pembelajaran sosial dan penguatan karakter masyarakat di tingkat desa. (KIM Tukum Mandiri/Tiyas)