Pleno PKK dan Rembug Stunting Jadi Titik Balik Arah Pembangunan Sosial di Desa Tukum
- Jul 12, 2025
- KIM Desa Tukum Mandiri
- Kesehatan, Pemberdayaan
Tukum, KIM – Pemerintah Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, memantapkan diri sebagai pelopor gerakan pencegahan stunting berbasis keluarga. Dalam forum Rembug Stunting yang digelar secara terbuka dan partisipatif di Balai Desa Tukum, Jumat (11/7/2025), enam akar permasalahan utama stunting berhasil diidentifikasi, menandai langkah penting menuju transformasi kebijakan di tingkat desa.
Forum yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa Tukum, Susanto, dan Ketua TP PKK Ny. Hanik Susanto itu menghadirkan diskusi lintas elemen, mulai dari kader kesehatan, tenaga medis, hingga tokoh masyarakat. Kegiatan ini menjadi titik tolak lahirnya program Gerakan Keluarga Tangguh, sebuah inisiatif terstruktur yang bertujuan membangun ketahanan keluarga melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif.
“Stunting bukan sekadar soal berat badan anak. Ini alarm sosial. Jika kita tidak bertindak dari sekarang, kita sedang menciptakan generasi yang rapuh secara sistemik. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari keluarga, dari cara berpikir, dari pola asuh, dan dari sinergi bersama,” ujar Susanto dalam sambutannya.
Hasil diskusi rembug menunjukkan bahwa sejumlah faktor seperti kehamilan berisiko tinggi, kekurangan energi kronis pada ibu hamil, pernikahan dini, pola asuh yang kurang tepat, balita yang tidak rutin hadir ke posyandu, hingga tingginya angka anemia pada remaja putri menjadi pemicu utama kasus stunting di Desa Tukum. Temuan ini bukan sekadar catatan, melainkan diperlakukan sebagai peta jalan untuk perumusan program yang lebih tajam dan berdampak.
Bersamaan dengan kegiatan rembug, Pleno TP PKK Desa Tukum juga digelar untuk memperkuat struktur gerakan perempuan desa sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun kualitas hidup keluarga. Ketua TP PKK, Ny. Hanik Susanto, menyampaikan bahwa kader perlu melihat forum pleno sebagai ruang pemberdayaan dan pertumbuhan bersama.
“Pleno bukan hanya tempat laporan kegiatan. Kita ingin kader merasa tumbuh di dalamnya belajar, berdiskusi, dan merasa memiliki peran penting dalam masa depan desa. Maka suasananya harus menarik, menyenangkan, dan membuat kader nyaman untuk berpendapat,” ujar Ny. Hanik.
Pemerintah desa merespons harapan itu dengan rencana perbaikan sarana-prasarana pendukung kegiatan kader, termasuk pelatihan penguatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi dalam pemantauan balita. Salah satu program unggulan yang akan dijalankan adalah revitalisasi Posyandu dengan sistem pelaporan digital dan sistem kunjungan rumah terstruktur oleh kader.
Kampanye pencegahan pernikahan dini juga akan digencarkan melalui pendekatan budaya dan keagamaan. Para tokoh lokal akan dilibatkan dalam menyampaikan pesan-pesan edukatif yang relevan dengan konteks masyarakat. Selain itu, sekolah ibu hamil dan kelas parenting akan digelar secara reguler untuk membekali orang tua dengan pengetahuan seputar gizi, kesehatan mental, dan pola pengasuhan anak berbasis kasih sayang dan ilmu.
Susanto kembali menegaskan bahwa seluruh keberhasilan program desa akan sia-sia jika tidak disertai gerakan masyarakat yang menyatu. “Pemerintah desa bukan pemilik tunggal solusi. Semua ini hanya akan berhasil jika masyarakat bergerak bersama. Kader PKK, tokoh agama, remaja, dan orang tua semua punya tanggung jawab moral,” katanya.
Langkah Desa Tukum ini dinilai sejalan dengan kebijakan nasional dalam percepatan penurunan stunting sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021. Pemerintah Kabupaten Lumajang bahkan menyebut program ini sebagai model ideal bagaimana desa bisa menjadi ujung tombak pembangunan manusia yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dalam sebuah momen reflektif di akhir kegiatan, Susanto menyampaikan bahwa keberhasilan sebuah desa tidak hanya ditentukan dari bangunan fisik yang berdiri, tetapi dari seberapa kuat karakter dan kesadaran keluarga-keluarga di dalamnya.
“Kita bisa bangun jalan, jembatan, atau pasar. Tapi tanpa keluarga yang kuat, semua itu akan hampa. Masa depan desa ada di meja makan, di ruang keluarga, di pelukan ibu yang mengerti makna gizi dan cinta,” tutupnya penuh harap. (KIM Tukum Mandiri/Pemdes Tukum/Ci)