Pendekatan Spiritual dan Edukasi Keluarga Efektif Tekan Stunting dan Nikah Dini
- Nov 11, 2025
- KIM Desa Tukum Mandiri
- Pemerintahan
Tukum, KIM – Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo), menegaskan bahwa penanganan stunting di desanya bukan hanya soal angka atau intervensi kesehatan. Program ini dibangun melalui pendekatan holistik yang melibatkan moral, spiritual, dan edukasi keluarga, dengan KUA Tekung berperan aktif sebagai mitra strategis. Pendekatan ini juga memperkuat upaya pencegahan pernikahan anak usia dini, sebuah isu yang berdampak langsung pada kesehatan dan gizi generasi muda.
“Penanganan stunting tidak boleh terpisah dari konteks keluarga dan moral. Anak-anak harus tumbuh dengan gizi seimbang, pola asuh tepat, dan lingkungan keluarga yang mendukung. KUA Tekung hadir untuk membimbing keluarga agar menunda pernikahan anak, sehingga anak dapat berkembang optimal sebelum memasuki rumah tangga,” ujar Cak Santo saat Monitoring dan Evaluasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) Kabupaten Lumajang di Pendopo Mangundiharjo, Selasa (11/11/2025).
Ia menekankan bahwa pernikahan dini berkorelasi langsung dengan risiko stunting pada generasi berikutnya. Anak yang menikah di usia terlalu muda berisiko mengalami kehamilan kurang sehat, rendah gizi, dan tidak siap secara mental, yang kemudian berdampak pada kesehatan anak mereka. Dengan edukasi berbasis agama, keluarga dipandu untuk memahami pentingnya menunda pernikahan, menjaga gizi, dan menerapkan pola asuh yang tepat.
“Keterlibatan lembaga keagamaan menjadikan program ini lebih dari sekadar intervensi medis. Ini membangun kesadaran moral dan sosial, sekaligus membentuk budaya preventif dalam keluarga dan masyarakat. Anak tumbuh sehat, keluarga sadar gizi, dan risiko stunting berkurang,” jelasnya.
Cak Santo menambahkan bahwa integrasi pendekatan kesehatan, edukasi, dan nilai-nilai agama memperkuat tata kelola program desa berbasis human development.
“Setiap kebijakan dan intervensi diarahkan pada hasil sosial jangka panjang: anak sehat, keluarga kuat, dan masyarakat yang paham pentingnya tumbuh kembang optimal serta menunda pernikahan anak,” imbuh dia.
Keberhasilan Desa Tukum menurunkan angka stunting dari 9 balita pada 2024 menjadi 6 balita pada 2025 membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor, yang menggabungkan intervensi medis, edukasi keluarga, dan pembinaan spiritual, mampu menciptakan perubahan nyata bagi kualitas hidup masyarakat. (KIM Tukum Mandiri/Fe)