Pemeriksaan Jentik Nyamuk Mandiri Jadi Langkah Efektif Hadapi Potensi DBD

  • Nov 08, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Kesehatan

Tukum, KIM – Kepala Desa Tukum, Susanto atau akrab disapa Cak Santo, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah meningkatnya curah hujan di wilayah Kabupaten Lumajang.

Ia menegaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan dan memeriksa jentik nyamuk secara mandiri di rumah masing-masing merupakan langkah paling efektif untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut.

Menurutnya, curah hujan tinggi sering menimbulkan genangan air di pekarangan rumah, talang, maupun wadah tidak terpakai. Kondisi ini menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.

“Jangan menunggu sampai ada korban DBD baru bertindak. Pencegahan paling kuat adalah kedisiplinan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan memeriksa jentik nyamuk secara rutin,” ujar Cak Santo saat dikonfirmasi di sela kegiatannya, Sabtu (8/11/2025).

Ia juga menekankan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus menjadi kebiasaan harian, bukan hanya kegiatan sesaat. Pemeriksaan jentik dapat dilakukan seminggu sekali di tempat-tempat potensial seperti bak mandi, pot bunga, wadah air hewan peliharaan, hingga penampungan air hujan. 

“Kalau tiap keluarga melakukannya dengan sadar, maka satu desa bisa terbebas dari ancaman DBD,” imbuhnya.

Pemerintah Desa Tukum telah menggerakkan kader PKK dan Posyandu untuk melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah, sekaligus membentuk Jumantik Mandiri di tiap dusun. Mereka bertugas memberikan edukasi, memantau potensi sarang nyamuk, dan mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan genangan kecil yang bisa menjadi sumber penyakit.

“Kita ingin warga aktif menjadi pengawas lingkungan. Pemerintah desa tidak bisa bekerja sendiri. DBD ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga masalah kesadaran,” tegas Cak Santo.

Selain itu, pemerintah desa juga akan menggandeng Puskesmas Tekung untuk melakukan inspeksi kesehatan lingkungan serta pemantauan jentik berkala di kawasan padat penduduk. Langkah ini menjadi bagian dari strategi desa siaga sehat dalam menghadapi musim hujan tahun ini.

Cak Santo juga mengingatkan, fogging bukan solusi utama. Tindakan tersebut hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik di genangan air akan terus berkembang. “Kita harus bergerak dari bawah. Pencegahan dimulai dari rumah, dari ember, dari setiap sudut halaman,” ujarnya menegaskan.

Dengan dukungan dan partisipasi masyarakat, Desa Tukum menargetkan tidak ada kasus DBD selama musim penghujan berlangsung. Pemerintah desa berkomitmen menjadikan kampanye “Satu Rumah Satu Jumantik” sebagai gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas penyakit.

Langkah sederhana namun berkelanjutan ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa kemandirian warga dalam menjaga kesehatan lingkungan adalah benteng terbaik dalam melindungi keluarga dan desa dari ancaman wabah DBD. (KIM Tukum Mandiri/Fe)