Pawai Takbir Iduladha di Desa Tukum Jadi Wujud Kearifan Lokal yang Terus Hidup
- Jun 08, 2025
- KIM Desa Tukum Mandiri
- Seni & Budaya
Tukum, KIM — Tradisi takbir keliling di Desa Tukum Kecamatan Tekung, Lumajang, kembali menggema dengan penuh semangat dan makna pada malam Iduladha 1446 H. Diselenggarakan di halaman Balai Desa Tukum, Kamis malam (5/62025), kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk perayaan keagamaan, tetapi juga perwujudan kearifan lokal yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala Desa Tukum, Susanto atau yang akrab disapa Cak Santo secara langsung memberangkatkan peserta pawai takbir keliling yang diikuti oleh berbagai TPQ dan sekolah di desa.
Dalam sambutannya, ia mengapresiasi semangat gotong royong, partisipasi warga, serta semaraknya kreativitas anak-anak dan remaja desa dalam menyambut hari raya kurban.
“Pawai ini bukan sekadar seremonial, tetapi bagian dari identitas kita sebagai masyarakat desa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan budaya. Saya sangat bangga dan terharu melihat antusiasme warga,” ujar Cak Santo.
Peserta pawai tampil dengan ragam ornamen, seperti miniatur masjid, bedug besar yang ditabuh anak-anak dengan semangat, lampion, serta busana islami yang dipadukan dengan nuansa lokal. Takbir yang dikumandangkan sepanjang jalan menyatu dengan tawa anak-anak dan senyum warga yang menyambut di pinggir jalan.
Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah lembaga pendidikan keagamaan, di antaranya TPQ Mansyaul Huda, TPQ Al Hikmah, TPQ Al As’yari, TPQ Riyadul Ulum, TPQ Riyadul Mutaqin, SD Negeri Tukum 02, MI Al Itihad, dan SDIT Ar Rahmah. Setiap kelompok menampilkan ciri khas tersendiri yang mencerminkan kreativitas dan semangat kebersamaan.
Bagi warga Desa Tukum, takbir keliling bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang untuk membangun silaturahmi, menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, serta menjaga warisan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.
“Di sinilah kita melihat wajah asli desa: rukun, hidup dalam harmoni, dan berlandaskan iman. Ini bentuk kearifan lokal yang tidak boleh luntur oleh zaman,” tambah Cak Santo.
Kegiatan berakhir dengan suasana hangat dan damai, membawa pesan bahwa kemeriahan takbir bukan hanya milik kota, tetapi juga milik desa yang tetap setia merawat tradisi dengan cinta dan kebersamaan. (KIM Tukum Mandiri/Ardi)