Mahasiswa KKN Lintas Ilmu Diharapkan Jadi Akselerator Pembangunan Desa Tukum

  • Jul 17, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Ekonomi & Sosial

Tukum, KIM – Pemerintah Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, menyambut kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaboratif dari tiga perguruan tinggi, Selasa pagi (16/7/2025). Kehadiran mereka diharapkan menjadi kekuatan baru dalam memetakan persoalan desa sekaligus mendorong pengembangan potensi lokal secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Sebanyak sepuluh mahasiswa diterjunkan dalam program ini, terdiri dari enam mahasiswa Universitas Jember (Unej), dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, dan dua mahasiswa Universitas Lumajang (Unilu). Mereka datang dengan latar belakang keilmuan yang beragam.

Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo), menegaskan bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu ini menjadi modal besar untuk merancang solusi berbasis data dan kebutuhan nyata masyarakat.

“Teman-teman mahasiswa ini datang dari berbagai jurusan dan kampus. Ini sangat potensial. Kami harap mereka bisa berkontribusi menyelesaikan persoalan yang ada di desa, baik itu soal pertanian, peternakan, maupun UMKM,” ujar Cak Santo.

Menurutnya, berbagai sektor di Desa Tukum memiliki potensi besar namun belum tergarap maksimal. Kehadiran mahasiswa KKN bisa menjadi pemantik inovasi, baik dalam bentuk pendampingan warga, pelatihan, digitalisasi usaha, hingga edukasi berbasis masyarakat.

“Misalnya, pertanian kita butuh sentuhan teknologi dan manajemen yang lebih baik. UMKM butuh promosi dan branding. Mahasiswa bisa bantu di situ. Dengan ide-ide baru dan pendekatan ilmiah, mereka bisa membawa dampak nyata,” tambahnya.

Para mahasiswa direncanakan tinggal dan berkegiatan di Desa Tukum selama lebih dari satu bulan ke depan. Selama itu, mereka akan menjalankan program kerja yang menyesuaikan dengan kebutuhan desa dan arahan pemerintah desa.

Program KKN kolaboratif ini juga menjadi bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dengan desa sebagai laboratorium sosial. Desa bukan sekadar tempat praktik, tapi juga ruang hidup di mana ilmu pengetahuan diuji relevansinya dalam dinamika masyarakat.

“Yang kami butuhkan bukan sekadar kehadiran fisik, tapi keterlibatan pikiran dan hati. Kami yakin mahasiswa bisa jadi mitra pembangunan yang sejajar, yang mengerti dan mendengar kebutuhan warga,” pungkas Cak Santo. (KIM Tukum Mandiri/Andik)