Mahasiswa KKN Kolaboratif 92 Tanamkan PHBS Sejak Dini, Siswa SD di Desa Tukum Belajar Sikat Gigi Sambil Bernyanyi
- Aug 05, 2025
- Farras Avrilla Daffa Wahyudi
Tukum, KIM – Satu per satu siswa SD Negeri Tukum 02, Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang, berjalan beriringan seperti kereta, menggenggam sikat di tangan kanan dan gelas di tangan kiri. Langkah kecil mereka membawa semangat besar, yaitu belajar hidup sehat bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif dari tiga perguruan tinggi.
Sabtu (2/8/2025) lalu, mahasiswa KKN Kolaboratif 92 dari Universitas Jember (UNEJ), UIN KHAS Jember, dan Universitas Lumajang (UNILU) menggelar penyuluhan edukatif tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa kelas 4, 5, dan 6 SDN Tukum 02. Kegiatan yang dikemas dengan pendekatan menyenangkan ini bertujuan menanamkan kebiasaan mencuci tangan dan menggosok gigi yang benar sejak dini.
“Kami ingin anak-anak memahami pentingnya kebersihan bukan lewat ceramah, tapi lewat pengalaman langsung yang menyenangkan,” ujar Sekretaris KKN Kolaboratif 92 Desa Tukum, Dewi Setya Rini saat dikonfirmasi, Selasa (5/8/2025).
Menggunakan model gigi, poster langkah-langkah mencuci tangan dan sikat gigi, serta lagu-lagu interaktif, suasana penyuluhan berubah menjadi ruang belajar penuh tawa dan semangat. Siswa-siswi diajak bermain sambil belajar. Dalam sesi kuis dan game edukatif, mereka diminta menempelkan potongan gambar langkah mencuci tangan dan menyikat gigi secara berurutan.
Tak hanya teori, praktik langsung pun digelar. Mahasiswa menyiapkan pasta gigi dan mengajak siswa yang berani mendemonstrasikan cara menyikat gigi yang benar di depan teman-temannya. Sontak suasana menjadi riuh ketika hadiah-hadiah menarik diumumkan.
“Ih, kok keluar darah setelah sikat gigi?” celetuk Shafa, salah satu siswa, polos namun penuh rasa ingin tahu.
“Nggak apa-apa, itu normal kok. Mungkin gusinya belum terbiasa. Tapi nanti akan makin sehat kalau rutin menyikat gigi,” jawab Kak Farras, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi.
Para siswa terlihat sangat antusias. Banyak dari mereka langsung mengeluarkan sikat dan gelas yang dibawa dari rumah, lalu berbaris rapi menuju keran air. Mereka membentuk lingkaran kecil, siap mempraktikkan apa yang baru saja mereka pelajari.
“Tadi pelajarannya seru banget, Kak! Besok ke sini lagi yaaaa...” pinta salah satu siswa, berharap kegiatan tak berhenti sampai hari itu saja.
Lebih dari sekadar penyuluhan, kegiatan ini menciptakan hubungan yang erat antara mahasiswa dan anak-anak desa. Bahkan, keesokan harinya, sejumlah siswa datang ke posko KKN untuk belajar dan mengerjakan PR bersama para mahasiswa.
Inilah esensi KKN Kolaboratif, bukan sekadar pengabdian kepada masyarakat, tetapi membangun jembatan pengetahuan, kebersamaan, dan perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan humanis, program ini menjadi inspirasi bahwa edukasi kesehatan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang menyenangkan. Jika generasi muda dibimbing dengan sabar dan kreatif, Indonesia sehat bukan sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan yang sedang tumbuh dari desa-desa seperti Tukum di Lumajang. (KKN Kolaboratif 92)