Launching "Srawung Laisa" di Desa Tukum, Wadah Baru Kreativitas Seni Budaya Anak Muda

  • Aug 18, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Seni & Budaya

Tukum, KIM – Pemerintah Desa Tukum bersama mahasiswa KKN Kolaboratif 92 resmi meluncurkan program "Srawung Laisa" (Sesarengan Datheng Ing Balai Desa) sebagai ruang baru untuk menumbuhkan kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda di bidang seni dan budaya.

Kepala Desa Tukum, Susanto atau akrab disapa Cak Santo menegaskan bahwa kehadiran Srawung Laisa bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum penting untuk membangkitkan potensi desa melalui ekspresi seni yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

“Srawung Laisa adalah wadah kebersamaan. Di sini anak-anak muda bisa mengekspresikan bakat, menjaga tradisi, sekaligus melahirkan karya baru yang memperkuat identitas Desa Tukum,” ujar Cak Santo.

Program ini diinisiasi oleh mahasiswa KKN Kolaboratif 92 yang berkolaborasi erat dengan pemerintah desa dan masyarakat. Mereka menekankan pentingnya menghadirkan ruang alternatif yang mendorong interaksi sosial, menghidupkan seni tradisi, serta merangsang lahirnya kreativitas modern.

Srawung Laisa menjadi simbol gotong royong lintas generasi. Balai desa yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk urusan administrasi, kini disulap menjadi ruang hidup: panggung seni, pusat kreativitas, sekaligus arena bertukar ide bagi anak-anak muda.

Selain itu, acara launching juga dimeriahkan dengan penampilan seni budaya lokal, mulai dari musik tradisional, tari-tarian, hingga pameran karya anak desa. Kehadiran warga yang antusias menunjukkan bahwa masyarakat Tukum mendukung penuh inisiatif ini.

Koordinator Desa KKN Kolaboratif 92 Farras Avrilla Daffa Wahyudi berharap, Srawung Laisa dapat terus berkembang menjadi agenda rutin desa. Lebih jauh, ruang ini bisa menjadi ikon baru Desa Tukum dalam menumbuhkan kreativitas generasi muda sekaligus menjaga akar budaya lokal.

Dengan hadirnya Srawung Laisa, Desa Tukum seolah menegaskan diri sebagai desa yang tidak hanya bergerak dalam pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa dan budaya. (KIM Tukum Mandiri/Ardi)