KKN Kolaboratif 92 Ubah Wajah UMKM Tukum, Dari Dapur Tradisional ke Etalase Digital

  • Jul 31, 2025
  • Farras Avrilla Daffa Wahyudi
  • Ekonomi & Sosial

Tukum, KIM – Di balik geliat UMKM desa yang sederhana namun penuh semangat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari tiga perguruan tinggi diantaranya, Universitas Jember, Universitas Lumajang, dan UIN KHAS Jember memainkan peran kunci sebagai motor penggerak transformasi ekonomi lokal.

Mereka tak hanya hadir untuk menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi membawa gagasan segar dan aksi nyata melalui program Tukum Cerdas (Ciptakan Ekonomi Rakyat Desa yang Aktif dan Sejahtera).

Dalam program KKN Kolaboratif 92 ini, para mahasiswa memilih untuk memulai langkah mereka dengan menyentuh denyut nadi utama perekonomian desa, yaitu UMKM. Dengan tekun, mereka menyisir pelosok Desa Tukum untuk melakukan observasi dan survei langsung terhadap pelaku usaha lokal. Tidak sekadar mencatat, mereka berdialog, mendengarkan, dan menggali kebutuhan nyata dari lapangan.

“Kami ingin KKN ini bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi bagian dari solusi pembangunan desa. Maka kami mulai dengan mendengar cerita para pelaku UMKM, memahami hambatannya, dan merancang intervensi berbasis kebutuhan lokal,” ujar Koordinator KKN Desa Tukum, Faras Avrilla Daffa’ Wahyudi saat dikonfirmasi, Kamis (31/7/2025).

Salah satu pelaku UMKM yang mereka temui adalah Mbak Manikan, pengusaha jajanan tradisional Kembang Goyang. Produksi dilakukan di dapur rumah, dengan pemasaran yang masih mengandalkan cara lama, yaitu dari mulut ke mulut. Namun potensi besar tersimpan di balik kesederhanaan tersebut, yang ditangkap cepat oleh para mahasiswa sebagai peluang untuk melakukan pendampingan digital.

Dari hasil survei, ditemukan bahwa beberapa pelaku UMKM di Tukum telah memiliki sertifikat halal dan label produk. Namun masih banyak yang belum tersentuh teknologi digital, belum memiliki identitas online, belum terdaftar di Google Maps, dan belum menjangkau konsumen melalui media sosial. Di titik inilah, peran mahasiswa KKN menjadi vital, yakni dengan menjembatani kesenjangan digital antara pelaku usaha tradisional dan ekosistem pasar modern.

Mahasiswa KKN Kolaboratif kemudian menggulirkan berbagai inisiatif seperti memetakan lokasi UMKM untuk diunggah ke Google Maps, membuatkan akun Google Bisnisku, serta mengajari pelaku UMKM cara membuat konten sederhana di TikTok dan Instagram. Langkah-langkah kecil yang membawa dampak besar dalam meningkatkan visibilitas usaha mereka di era digital.

“Digitalisasi bukan sekadar soal teknologi, tapi juga tentang keberanian pelaku UMKM untuk tampil dan bersaing secara terbuka. Kami hadir untuk memfasilitasi transisi ini secara inklusif,” kata Faras.

Program ini juga menggandeng pemerintah desa. Ketua TP PKK Desa Tukum, Hanik Susanto, mendampingi langsung kegiatan survei dan menyatakan apresiasi atas kontribusi nyata para mahasiswa.

“Anak-anak KKN ini tidak datang hanya untuk belajar, tetapi benar-benar terlibat membangun desa. Mereka membawa energi baru, wawasan baru, dan menjadikan kami bagian dari peta digital Indonesia,” ujar Hanik.

Melalui Tukum Cerdas, mahasiswa KKN telah mengubah paradigma pembangunan desa, dari yang dulunya top-down menjadi partisipatif. Mereka hadir sebagai fasilitator, bukan instruktur; sebagai mitra, bukan pengganti. Pendekatan ini menciptakan rasa memiliki yang lebih kuat di kalangan pelaku UMKM, bahwa transformasi bukan dipaksakan, melainkan tumbuh dari kolaborasi.

Di balik kehangatan interaksi antar generasi ini, tersimpan pelajaran penting, yakni mahasiswa KKN bisa menjadi agen perubahan nyata jika diberi ruang untuk berkontribusi dan mendesain program berbasis kebutuhan masyarakat. Lebih dari sekadar mengisi logbook harian, KKN di Desa Tukum menjadi bukti bahwa kolaborasi akademik dan masyarakat mampu melahirkan solusi konkret bagi tantangan zaman.

Langkah-langkah digitalisasi yang mereka rintis saat ini bisa jadi belum langsung terasa dampaknya secara ekonomi. Namun dari sudut pandang keberlanjutan, ini adalah investasi jangka panjang seperti membuka akses pasar, memperkuat identitas produk lokal, dan menjadikan Desa Tukum lebih tangguh menghadapi era digital.

Mahasiswa KKN Kolaboratif telah menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari desa. Dan dari Tukum, mereka membuktikan bahwa masa depan ekonomi rakyat bisa dibentuk dengan langkah-langkah kecil yang bermakna. (KKN Kolaboratif 92 Tukum)