Kirangan Tumben Jadi Wahana Pencerahan, Mahasiswa UIN KHAS Edukasi Warga Soal Mental Health
- Aug 29, 2025
- KIM Desa Tukum Mandiri
- Kesehatan
Tukum, KIM – Kirangan Tumben (Kirab Gunungan Tukum Biyen) di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, yang akan digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025 nanti, tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya dan hiburan rakyat. Tahun ini, acara tersebut semakin sarat makna berkat keterlibatan mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.
Mahasiswa UIN KHAS Jember akan membuka stand tes kepribadian dan kejiwaan yang bisa diikuti masyarakat secara gratis. Kehadiran mereka membawa pesan penting bahwa kesehatan mental sama krusialnya dengan kesehatan fisik, serta menjadi bagian dari kualitas hidup masyarakat desa.
Kepala Desa Tukum, Susanto atau akrab disapa Cak Santo, menilai kontribusi mahasiswa ini sebagai bentuk transfer ilmu yang nyata antara dunia akademis dengan kehidupan masyarakat.
“Kirangan Tumben tahun ini tidak hanya bicara tentang budaya masa lalu, tetapi juga tantangan masa kini. Edukasi kesehatan mental yang dibawa mahasiswa adalah kebutuhan mendasar agar masyarakat lebih siap menghadapi dinamika kehidupan,” tegasnya saat menerima Audiensi Mahasiswa UIN KHAS Jember di Ruang Kerjanya, Jumat (28/8/2025).
Menurutnya, pembangunan desa bukan hanya membangun jalan atau infrastruktur, melainkan juga membangun manusianya. Kesehatan mental menjadi fondasi penting untuk melahirkan warga desa yang produktif, tangguh, dan harmonis.
“Lewat tes kepribadian ini, warga bisa mengenali diri, mengasah kesadaran, dan belajar mengelola emosi. Itu semua adalah modal sosial untuk kemajuan desa,” imbuh Cak Santo.
Partisipasi UIN KHAS Jember juga menunjukkan bahwa Kirangan Tumben telah berevolusi dari sekadar agenda budaya menjadi ruang kolaborasi multidisiplin. Tradisi, kreativitas masyarakat, dan pengetahuan akademis berpadu dalam satu panggung untuk memperkuat identitas sekaligus memajukan desa.
Selain stand edukasi, Kirangan Tumben akan diramaikan dengan kirab jolen, pentas seni, bazar produk lokal, serta lomba tradisional yang menghidupkan kembali nilai gotong royong. Kombinasi ini menjadikan Kirangan Tumben bukan hanya ajang nostalgia, melainkan gerakan sosial-budaya yang menyatukan masyarakat lintas generasi.
“Kirangan Tumben adalah momentum pembelajaran bersama. Masyarakat bisa berbangga dengan budayanya, sembari memperoleh ilmu baru dari mahasiswa. Inilah cara desa menguatkan jati diri sekaligus melangkah menuju masa depan yang lebih berdaya,” pungkasnya. (KIM Tukum Mandiri/Gita)