Kearifan Lokal Dipadu Ilmu Modern, Petani Desa Tukum Perkuat Fondasi Pertanian dari Tanah

  • Sep 18, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Pertanian

Tukum, KIM – Pemahaman tentang kondisi tanah kini menjadi fondasi penting dalam pertanian modern. Hal ini menjadi sorotan dalam pertemuan petani Desa Tukum, Kecamatan Tekung, yang digelar di Dusun Munder, Rabu (17/9/2025) malam.

Pertemuan tersebut menghadirkan penyuluhan dari Nia, fasilitator Program Belajar Lapangan (PBL) Pertanian, bersama Ketua Kelompok Tani Sejati, Yoyon Sudarwanto. Materi yang dibawakan berfokus pada cara mengukur pH tanah dan kandungan nutrisi, dua faktor utama yang sangat menentukan kesuburan lahan serta keberhasilan budidaya pertanian.

Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo), menilai bahwa penyuluhan ini merupakan kebutuhan mendesak bagi petani di era saat ini.

“Pemahaman tentang pH dan nutrisi tanah adalah dasar pertanian modern. Dengan ilmu ini, petani bisa memilih jenis tanaman yang sesuai, menentukan teknik pengolahan yang tepat, serta menggunakan pupuk secara lebih efisien. Semua itu bermuara pada hasil panen yang lebih maksimal,” tegasnya.

Menurut Cak Santo, petani tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun. Tantangan pertanian saat ini menuntut kombinasi antara kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah agar pengelolaan lahan semakin efektif dan berkelanjutan.

Selain berdampak pada produktivitas, pemahaman kondisi tanah juga membuka peluang bagi petani untuk menekan biaya produksi. Dengan mengetahui kebutuhan lahan secara presisi, petani dapat menghindari penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan yang justru bisa merusak kesuburan tanah jangka panjang.

Pertemuan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman antarpetani. Diskusi yang terbangun tidak hanya memperkaya pengetahuan individu, tetapi juga memperkuat solidaritas kelompok tani dalam menghadapi persoalan pertanian bersama.

Pemerintah Desa Tukum bersama kelompok tani berkomitmen untuk melanjutkan program penyuluhan serupa secara berkala. Harapannya, lahir generasi petani yang lebih adaptif, produktif, dan berdaya saing, sehingga pertanian Lumajang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan daerah.

“Kalau petani kita sudah cerdas mengelola tanah, bukan hanya hasil panen yang meningkat, tapi juga kualitas hidup masyarakat desa ikut terdongkrak,” pungkasnya. (KIM Tukum Mandiri/Andik)