Kades Tukum Ajak Elemen Masyarakat Bergandeng Tangan Merawat Jiwa yang Terlupa
- Jul 19, 2025
- KIM Desa Tukum Mandiri
- Kesehatan
Tukum, KIM – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan desa berbasis fisik dan ekonomi, Desa Tukum di Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, menorehkan langkah berbeda, yakni memprioritaskan kesehatan jiwa melalui Posyandu Jiwa Mayaswarah, sebuah kegiatan bulanan yang dirancang khusus bagi saudara-saudara penyintas gangguan jiwa (ODGJ).
Inisiatif yang tergolong langka di tingkat desa ini merupakan bentuk kepedulian mendalam terhadap kelompok rentan yang kerap luput dari perhatian. Kepala Desa Tukum, Susanto atau yang akrab disapa Cak Santo, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata dari keberpihakan terhadap kemanusiaan.
“Desa kami tidak hanya ingin membangun dari sisi infrastruktur, tapi juga dari sisi mental dan martabat manusia. Posyandu Jiwa ini hadir untuk memastikan saudara-saudara ODGJ mendapat pendampingan, pengobatan rutin, dan pelatihan keterampilan agar dapat hidup lebih mandiri,” jelas Cak Santo saat kegiatan berlangsung, Jumat (18/7/2025).
Posyandu Jiwa Mayaswarah bukan hanya ruang perawatan, tetapi juga ruang pemulihan. Setiap bulan, para anggota mendapatkan terapi, konsultasi, dan obat-obatan yang diberikan secara teratur oleh tenaga kesehatan yang berkompeten, bekerja sama dengan puskesmas setempat.
Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan unsur pemuda, termasuk para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaboratif dari tiga perguruan tinggi. Koordinator Desa Tukum, Faras Avrilla Daffa’ Wahyudi, menyampaikan apresiasi atas kesempatan berharga bisa turut ambil bagian dalam kegiatan yang begitu humanis.
“Kami belajar banyak tentang empati, pelayanan, dan bagaimana membangun desa yang inklusif. Ini bukan sekadar pengalaman KKN, tapi pengalaman hidup,” tutur Faras.
Kolaborasi lintas elemen ini menjadi bukti bahwa perawatan ODGJ tidak bisa hanya dibebankan pada keluarga atau tenaga medis saja. Dukungan kolektif dari masyarakat desa, pemerintah, dan akademisi menjadi pilar penting dalam proses pemulihan.
Tak hanya berfokus pada aspek medis, program ini juga mengembangkan potensi penyintas melalui pelatihan keterampilan seperti kerajinan tangan, memasak, hingga kegiatan bercocok tanam. Harapannya, mereka dapat memiliki bekal hidup untuk masa depan yang lebih cerah.
Cak Santo berharap gerakan ini bisa direplikasi desa lain, bukan sebagai program tambahan, tapi sebagai kebutuhan mendasar dalam pembangunan yang menyentuh sisi paling sunyi dari manusia, yaitu kesehatan jiwa.
“Kita ingin Desa Tukum menjadi rumah yang aman dan ramah bagi semua. Bahkan mereka yang sering dilupakan, harus kita rangkul kembali ke pelukan sosial,” imbuhnya.
Dalam semangat no one left behind, Posyandu Jiwa Mayaswarah Desa Tukum meneguhkan makna pembangunan desa yang utuh, bukan hanya jalan yang halus atau sawah yang subur, tapi juga jiwa-jiwa yang pulih dan bangkit. (KIM Tukum Mandiri/Andik)