Jejak KKN Kolaboratif 92: Datang Sebagai Orang Asing, Pulang Sebagai Keluarga Desa Tukum

  • Aug 19, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Ekonomi & Sosial

Tukum, KIM – Tiga puluh lima hari lalu, sekelompok mahasiswa dengan seragam almamaternya datang ke Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang. Mereka memperkenalkan diri sebagai bagian dari KKN Kolaboratif 92, sebuah program yang bukan hanya sekadar tugas akademik, melainkan juga pengabdian sosial.

Awalnya, mereka datang dengan wajah penuh harapan, namun juga menyimpan rasa canggung. Bagi sebagian, Tukum adalah peta baru yang belum pernah disentuh. Namun, langkah awal itu segera disambut dengan senyum hangat masyarakat desa, seolah-olah para pendatang muda ini sudah lama dikenal.

Koordinator Desa KKN Kolaboratif 92, Farras Avrilla Daffa Wahyudi, masih mengingat jelas bagaimana ia dan rekan-rekannya pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. “Kami sempat merasa asing, tapi sambutan masyarakat membuat kami cepat merasa diterima,” ujarnya.

Hari berganti hari, pagi hingga malam, mahasiswa KKN Kolaboratif 92 larut dalam denyut kehidupan desa. Mereka terlibat dalam aktivitas keseharian warga, ikut merasakan bagaimana gotong royong menjadi nafas kehidupan, sekaligus belajar bahwa ilmu sejati seringkali ditemukan di luar ruang kuliah.

Tak hanya itu, mereka juga mendampingi pemerintah desa dalam berbagai program. Salah satunya, penyusunan Peta Desa Tukum yang kelak menjadi dokumen vital untuk perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah. Dari tangan-tangan muda inilah lahir kontribusi nyata yang akan dikenang.

Sekretaris KKN Kolaboratif 92, Dewi Setya Rini, menuturkan bahwa perjalanan ini bukan sekadar pengabdian, melainkan juga pengalaman emosional. “Kami belajar arti keluarga yang sesungguhnya di sini. Tawa, lelah, hingga cerita sehari-hari bersama warga menjadi bagian hidup yang sulit dilupakan,” katanya lirih.

Masyarakat Tukum pun merasakan kehadiran mahasiswa ini bukan sekadar tamu, melainkan sahabat. Warga dengan senang hati membuka pintu rumah, berbagi cerita, hingga menyajikan hidangan sederhana yang menyatukan hati di meja makan.

Suasana kebersamaan ini menciptakan ikatan emosional yang kuat. Anak-anak desa menanti kehadiran para mahasiswa setiap sore, sementara para orang tua merasa memiliki anak tambahan yang membantu dengan tenaga dan ide segar.

Dalam perjalanannya, tentu tak hanya tawa yang hadir. Ada lelah, ada tantangan, ada juga perbedaan cara pandang. Namun justru itulah yang mengajarkan arti pengabdian. Bahwa hidup berdampingan membutuhkan kesabaran, pengertian, dan keikhlasan.

Setiap program yang mereka jalankan bukan hanya soal laporan akademik, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa desa adalah ruang belajar yang sesungguhnya. Bagi mahasiswa, Tukum menjadi kampus kehidupan yang tak ternilai.

Kini, ketika masa pengabdian berakhir, perpisahan menjadi momen paling berat. Dalam setiap senyum pamit, ada doa yang terpanjat. Dalam setiap pelukan, tersimpan rindu yang sudah terasa sejak sebelum kaki melangkah meninggalkan desa.

“Terima kasih Desa Tukum atas penerimaan, kebersamaan, dan cinta yang kalian berikan. Kami datang sebagai orang asing, dan kini pulang sebagai keluarga,” ujar Farras, penuh haru.

Dewi pun menambahkan bahwa setiap jejak kecil yang mereka tinggalkan semoga bisa menjadi manfaat. “Kami berharap, bukan hanya program yang dikenang, tetapi juga kebersamaan yang sudah kita rajut bersama,” ucapnya.

Kepala Desa Tukum, Susanto atau akrab disapa Cak Santo, memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran mahasiswa KKN Kolaboratif 92. “Kami sangat berterima kasih karena adik-adik mahasiswa telah memberikan tenaga, ide, dan semangat baru untuk desa kami. Kehadiran mereka bukan hanya membantu pemerintah desa, tapi juga menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat,” tutur Cak Santo, Selasa (19/8/2025).

Ia menambahkan, meski masa pengabdian telah usai, hubungan emosional antara mahasiswa dan masyarakat Tukum tidak akan putus. “Mereka sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Harapan kami, ilmu yang mereka bawa bisa terus bermanfaat, dan ikatan ini akan selalu terjaga,” ungkapnya penuh hangat.

Dalam kesempatan itu, mahasiswa KKN Kolaboratif 92 juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung keberlangsungan program. Mulai dari Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Tukum, Karang Taruna, hingga berbagai organisasi kemasyarakatan desa yang tak henti memberikan dukungan moral maupun tenaga. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan adalah kunci keberhasilan pengabdian.

Bagi masyarakat Tukum, 35 hari bersama mahasiswa KKN bukan waktu yang singkat. Kehadiran mereka menjadi bagian dari denyut kehidupan desa, dan kepergian mereka meninggalkan ruang kosong yang akan selalu dirindukan.

KKN Kolaboratif 92 pun meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar fisik. Mereka meninggalkan kenangan, menanamkan semangat kebersamaan, dan mengingatkan bahwa pembangunan desa bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang hubungan manusia yang saling menguatkan.

Dari pengabdian ini, lahir pelajaran besar: bahwa ilmu sejati adalah ketika ia bisa hadir untuk orang lain. Bahwa pengabdian bukan hanya kewajiban mahasiswa, tetapi panggilan hati setiap insan.

Tukum menjadi saksi bagaimana sekelompok anak muda belajar merendahkan diri, berbagi pengetahuan, sekaligus menerima kearifan lokal sebagai guru. Dan masyarakat menjadi saksi bahwa generasi muda bangsa masih punya kepedulian untuk turun ke akar rumput.

Perpisahan akhirnya tiba. Dengan langkah berat namun penuh doa, para mahasiswa KKN Kolaboratif 92 meninggalkan Desa Tukum. Namun, mereka tahu, ikatan hati tidak pernah terputus oleh jarak.

Di balik senyum perpisahan, ada janji yang tak terucap: bahwa Tukum akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Dan di balik setiap kenangan, selalu ada harapan bahwa kelak jalan ini akan kembali mempertemukan.

Mereka datang sebagai orang asing. Mereka pulang sebagai keluarga. Dan di sanalah letak nilai sejati dari pengabdian. (KIM Tukum Mandiri/KKN Kolaboratif 92/An-m)