Gebyar Selawat di Desa Tukum: Menyatukan Kesenian Albanjari dan Nilai Keagamaan

  • Sep 22, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Seni & Budaya

Tukum, KIM – Gebyar Selawat Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Minggu malam (21/9/2025), menghadirkan kombinasi harmonis antara lantunan selawat dan pertunjukan kesenian albanjari. Acara yang digelar di Pendopo Mangundiharjo ini melibatkan sembilan grup albanjari dari berbagai dusun, menegaskan peran seni religius sebagai wahana ekspresi spiritual sekaligus pelestarian budaya.

Kepala Desa Tukum, Susanto atau akrab disapa Cak Santo, menyampaikan bahwa kesenian albanjari dalam Gebyar Selawat bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menanamkan nilai-nilai keagamaan, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan pembinaan generasi muda.

“Gebyar Selawat ini menjadi ruang di mana kesenian albanjari menghidupkan spiritualitas warga. Melalui syair pujian dan lantunan rebana, kita mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus memperkuat ukhuwah dan rasa persaudaraan antarwarga,” ujarnya.

Sembilan grup albanjari menampilkan repertoar selawat yang khas dengan warna musikal masing-masing dusun, menciptakan atmosfer religius yang kental dan penuh khidmat. Setiap pertunjukan menjadi bukti bahwa seni tradisi keagamaan mampu menembus generasi muda dan menjadikan mereka pelestari budaya sekaligus penguat iman.

Cak Santo menekankan, keterlibatan pemuda dalam albanjari menunjukkan bahwa nilai keagamaan dan kesenian dapat berjalan beriringan. “Generasi muda belajar bahwa seni religius bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana memperdalam iman, menjaga persatuan, dan menebar keberkahan bagi desa,” tambahnya.

Warga yang hadir larut dalam lantunan selawat, merasakan kedamaian sekaligus kebersamaan. Tradisi ini diyakini mampu menjadi pilar penguatan spiritual dan sosial masyarakat Tukum, menjaga keharmonisan antara nilai keagamaan dan warisan budaya.

Cak Santo menutup acara dengan harapan agar Gebyar Selawat terus menjadi agenda rutin, memadukan kesenian albanjari dengan syiar keagamaan, sehingga Desa Tukum tidak hanya guyub dan rukun, tetapi juga semakin berakar pada nilai-nilai keislaman dan budaya lokal. (KIM Tukum Mandiri/Luqman)