Cak Santo: Di Balik Santunan, Ada Pelukan Hangat untuk Hati Anak-anak Yatim

  • Jul 10, 2025
  • KIM Desa Tukum Mandiri
  • Ekonomi & Sosial

Tukum, KIM – Kepala Desa Tukum, Susanto atau yang akrab disapa Cak Santo, kembali menghidupkan semangat gotong royong dan cinta kasih lewat kegiatan santunan anak yatim yang digelar bersama Paguyuban Sosial Pintu Surga Lumajang, Kamis (10/7/2025). Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas sosial, tapi menjadi ruang hangat bagi anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan orang tua.

Sebanyak 50 anak yatim dari berbagai desa, termasuk 20 anak dari Tukum menerima santunan berupa uang dan bingkisan. Namun lebih dari itu, mereka juga diajak tertawa, bermain, dan menikmati suasana kebersamaan di kawasan wisata alam Tumpak Selo. Kegiatan ini dikemas dengan tema “Bermain dan Berbagi Bahagia,” menghilangkan sekat formalitas agar anak-anak bisa merasa benar-benar hadir, diterima, dan disayangi.

“Kami tidak ingin anak-anak ini merasa dikasihani. Kami ingin mereka tahu bahwa ada keluarga besar yang peduli, yang ingin mereka bahagia dan merasa layak dicintai,” ucap Cak Santo, dengan mata yang sesekali menatap hangat ke arah anak-anak yang tertawa lepas di pelataran alam.

Menurutnya, desa yang kuat dibangun bukan hanya dari infrastruktur, tapi juga dari rasa. Rasa peduli, rasa memiliki, dan rasa saling menjaga. Dalam kesibukannya sebagai kepala desa, Cak Santo selalu menyisihkan waktu untuk hal-hal yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam, hadir untuk mereka yang kehilangan.

“Anak-anak ini tumbuh tanpa ayah atau ibu, tapi bukan berarti mereka tumbuh tanpa harapan. Maka tugas kitalah mengisi ruang kosong itu dengan cinta yang nyata, bukan sekadar janji atau simpati,” tambahnya.

Paguyuban Sosial Pintu Surga yang ia pimpin menjadi jembatan bagi warga untuk saling berbagi, terutama kepada mereka yang paling rentan. Kegiatan santunan tahun ini tidak hanya tentang memberi, tapi juga tentang hadir sepenuh hati memberi waktu, perhatian, dan pelukan dalam bentuk kebersamaan.

Dari Tukum hingga Tempeh, dari Kepuharjo hingga Labruk dan Suko, semangat yang sama terasa anak-anak yatim tidak sendiri.

Di penghujung acara, anak-anak diajak naik ban menyusuri aliran sungai di Tumpak Selo. Tawa mereka menggema, mengisi hening yang biasanya menyelimuti hidup mereka. Di sanalah letak keberhasilan kegiatan ini bukan pada jumlah bantuan, tapi pada nyala bahagia yang tampak di mata mereka.

“Selama masih ada air mata yang bisa kita seka, selama masih ada tangan kecil yang bisa kita genggam, maka kita belum selesai menjadi manusia,” pungkasnya. (KIM Tukum Mandiri/Andik)