496 Keluarga di Desa Tukum Terima Bantuan Beras CBP Juni-Juli 2025, Lansia Rasakan Manfaat Nyata
- Jul 30, 2025
- KIM Desa Tukum Mandiri
- Ekonomi & Sosial
Tukum, KIM – Sebanyak 496 keluarga penerima manfaat (KPM) di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, menerima paket bantuan beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk alokasi bulan Juni dan Juli 2025. Penyaluran dilakukan di Balai Desa Tukum pada Rabu (30/7/2025), dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti lansia.
Kepala Desa Tukum, Susanto, yang akrab disapa Cak Santo, menyampaikan bahwa bantuan ini sangat penting untuk meringankan beban hidup warga, terlebih bagi para lansia yang tidak memiliki penghasilan tetap namun tetap ingin mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya kepada anak-anak atau kerabat.
“Banyak di antara mereka bukan sebatang kara, tapi hidup dalam keterbatasan. Bantuan ini hadir sebagai bentuk kepedulian negara, agar mereka tetap bisa hidup dengan layak dan bermartabat,” ujar Cak Santo.
Salah satu penerima manfaat, Suparti (70 tahun), mengaku sangat terbantu. Ia datang ke balai desa didampingi anak bungsunya. Dengan wajah teduh, Suparti menyampaikan rasa syukurnya.
“Beras ini cukup untuk beberapa minggu ke depan. Saya memang tinggal bersama keluarga, tapi kami hidup pas-pasan. Bantuan ini seperti rejeki dari langit,” ucapnya sambil tersenyum.
Cak Santo juga menegaskan bahwa penyaluran dilakukan secara tertib, dengan memastikan para lansia didahulukan dan tidak harus menunggu terlalu lama. Pemerintah desa bekerja sama dengan petugas sosial (TKSK) dan SDM Program Keluarga Harapan (PKH) untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Penyaluran ini juga melibatkan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Desa Tukum Tahun 2025. Mereka berasal dari Universitas Jember (Unej), Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, dan Universitas Lumajang (Unilu). Kehadiran para mahasiswa ini memperkuat semangat gotong royong dan menjadi penghubung antara dunia akademik dan realita sosial di lapangan.
Lebih dari sekadar distribusi logistik, momen ini juga menjadi ruang memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian antargenerasi. Lansia seperti Suparti bukan hanya penerima manfaat, tapi juga bagian penting dari jalinan sosial masyarakat yang saling menjaga.
“Kami ingin semua warga, terutama lansia, merasa dihargai. Negara hadir bukan hanya dalam bentuk bantuan, tapi juga dalam perhatian dan pelayanan yang manusiawi,” tutupnya.
Bantuan beras CBP ini menjadi salah satu instrumen jaring pengaman sosial yang terus digulirkan pemerintah untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, khususnya di tingkat desa. (KIM Tukum Mandiri/Fe)