Mahasiswa UMM Direncanakan Terlibat dalam Pendampingan Program Desa Bebas Sampah di Tukum

  • Jun 14, 2026
  • KIM Tukum Mandiri
  • Lingkungan Hidup

Tukum, KIM – Desa tidak hanya menjadi ruang pembangunan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi laboratorium pembelajaran yang penting bagi mahasiswa untuk memahami berbagai persoalan dan potensi yang ada di lapangan. Melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat, mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus memperkaya pengalaman belajar mereka.

Hal tersebut menjadi bagian dari rencana program pengabdian masyarakat yang tengah dipersiapkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Tukum. Dalam kunjungan kerja ke Kantor Kepala Desa Tukum, Minggu (14/6/2026), tim akademisi melakukan observasi lapangan sekaligus berdiskusi mengenai peluang pelibatan mahasiswa dalam kegiatan pendampingan masyarakat.

Berdasarkan rencana awal yang disampaikan tim akademisi, sekitar delapan mahasiswa UMM akan dilibatkan dalam kegiatan pendampingan selama pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala Desa Tukum, Susanto atau yang akrab disapa Cak Santo, mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat memberikan energi baru dalam proses edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

"Mahasiswa memiliki semangat, kreativitas, dan pengetahuan yang dapat menjadi modal penting dalam mendukung berbagai kegiatan pemberdayaan. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat proses pendampingan kepada masyarakat," ujarnya.

Menurut Cak Santo, interaksi antara mahasiswa dan masyarakat akan memberikan manfaat timbal balik. Masyarakat memperoleh tambahan wawasan dan pendampingan, sementara mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar langsung dari kehidupan dan dinamika desa.

Sementara itu, Dr. Ir. Asmah Hidayati, M.P., IPM, menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program pengabdian merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik di lapangan.

"Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata dalam memahami kebutuhan masyarakat serta bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk memberikan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa selama proses pendampingan, mahasiswa tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang membantu menyampaikan berbagai pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan program yang akan dilaksanakan.

Melalui pelibatan mahasiswa dalam program pengabdian masyarakat tersebut, diharapkan tercipta proses pembelajaran yang saling menguatkan antara dunia akademik dan masyarakat dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan. (KIM Tukum Mandiri/Fe)